Mau masuk startup unicorn tapi bingung skill apa yang beneran dibutuhin? Ngerti, persaingannya ketat banget. Rata-rata unicorn Indonesia cuma hire 2-3% applicant, dan itu pun mereka cari orang yang bisa langsung ngebantu grow bisnis. Bukan sekadar IPK tinggi atau sertifikat banyak. Ini 7 skill yang bakal bikin CV lo beda dari ribuan fresh graduate lain.

1. Data-Driven Mindset (Bukan Cuma Bisa Excel)

Startup unicorn hidup dari data. Setiap keputusan—mulai dari warna tombol ‘Buy’ sampe diskon berapa persen—harus backed by data. Lo nggak perlu jadi data scientist, tapi harus paham cara think in numbers.

Contoh konkret: Gojek pernah ubah algoritma penugasan driver berdasarkan heatmap demand. Hasilnya? Efisiensi naik 15% dalam satu quarter. Orang yang paham data bakal nanya: “Metrik apa yang kita ukur? Statistical significance-nya cukup?” bukan “Ini kayaknya bagus deh.”

What to do:

  • Belajar SQL dasar (SELECT, JOIN, WHERE). Cukup untuk ekstrak data sendiri.
  • Paham A/B testing concept. Netflix tech blog atau Gojek blog bagus buat bacaan.
  • Praktik: analyze dataset publik (Kaggle, data.go.id), bikin simple dashboard di Google Data Studio.

Di startup, lo bakal sering denger: “Show me the data.” Kalau lo bisa jawab dengan slide yang isinya chart jelas, lo udah menang setengah jalan.

2. Product Sense & Customer Empathy

Unicorn itu product company. Mereka bikin produk yang solve real problem. Skill ini artinya lo bisa jadi voice of the customer di meja meeting.

Bayangin: lo jadi product intern di Tokopedia. Founder nanya: “Kenapa conversion rate turun 5%?” Bukan cuma laporin data, tapi lo bisa bilang: “Kayaknya karena user bingung sama UI baru di checkout page. Ini hasil user interview 10 orang kemarin.” Boom. Lo valuable.

Cara latihannya:

  • Pakai produk unicorn secara intens. Catat friction points. Bikin analisis: “Kalau aku PM Gojek, aku bakal improve fitur X karena…”
  • Baca app reviews di Play Store. Bukan buat baca bintangnya, tapi buat paham pain point user.
  • Interview 5-10 teman soal kebiasaan pakai aplikasi. Record, transcript, cari pattern.

“Kita hire fresh grad bukan cuma karena mereka pintar, tapi karena mereka punya curiosity tentang product dan berani challenge assumption.” – Senior PM di salah satu decacorn Indonesia.

3. Agile & Rapid Execution

Di corporate, deadline project bisa 6 bulan. Di startup unicorn? Bisa 2 minggu aja. Mereka pakai Agile/Scrum framework. Lo harus comfy dengan chaos, ambiguity, dan speed.

Baca:  Pengalaman Kerja Menjadi Social Media Specialist: Tak Sekadar Scroll Tiktok (Suka Duka)

Realita: lo bakal ikut sprint planning, kerjaan berubah tiba-tiba karena ternyata data menunjukkan hal lain, dan presentasi ke founder bisa diminta “besok pagi.” Yang penting bukan perfect, tapi done is better than perfect.

How to demonstrate:

  • Di CV, highlight project yang lo selesaikan dalam waktu singkat (contoh: “Built MVP website in 1 week for campus event with 500+ attendees”).
  • Paham tools: Jira, Trello, Notion. Bikin portfolio project pakai Scrum approach.
  • Show adaptability: ceritakan pengalaman lo pivot strategy mid-project.

4. Technical Literacy (Bukan Cuma untuk Engineer)

Lo apply posisi non-tech? Masih butuh ngerti teknologi dasar. Kenapa? Karena lo bakal collaborate daily dengan engineer. Kalau lo ngerti API, database, sama basic logic, komunikasi jauh lebih efisien.

Contoh kasus: lo jadi marketing di Traveloka mau launch campaign diskon. Lo perlu tau: “API voucher ini limitnya 1000 request per minute. Database promo ini butuh 2 hari migration.” Kalau lo ngerti, lo nggak bakal janji ke user “diskon unlimited” yang malah crash sistem.

Level yang harus dikuasai:

Skill Basic (Cukup) Intermediate (Ideal)
API Tau apa itu GET/POST, bisa baca API docs Bisa test API pakai Postman, ngerti rate limiting
Database Tau perbedaan SQL vs NoSQL Bisa tulis simple query, ngerti indexing concept
Code Baca pseudocode, ngerti if-else logic Bisa edit simple HTML/CSS atau Python script

Resource: freeCodeCamp (JavaScript dasar), Postman Student Expert program, Harvard’s CS50 di edX.

5. Communication & Stakeholder Management

Startup unicorn itu flat hierarchy. Lo bisa jadi present ke VP atau bahkan founder dalam bulan pertama. Tapi flat artinya lo harus bisa komunikasi super efektif. Nggak ada waktu buat baca email panjang lebar.

Skill ini = bikin one-pager yang jelas, ngejelasin ide dalam 30 detik (elevator pitch), dan manage ekspektasi stakeholder yang punya interest beda-beda.

Pro tips:

  • Praktik bikin executive summary. Ambil berita Tech in Asia, terus summarize jadi 3 bullet points.
  • Record diri lo present. Cek: apakah jelas? Apakah ada filler “eh, hmm” terlalu banyak?
  • Belajar nulis email ke partner eksternal. Tonenya profesional tapi nggak kaku. Salin gaya email dari blog Gojek/Tokopedia.

6. Growth Hacking Mindset

Unicorn obsesive sama growth. Bukan sekadar marketing, tapi growth hacking: creative, low-cost strategy buat acquire dan retain user. Lo harus paham funnel (AARRR: Acquisition, Activation, Retention, Revenue, Referral).

Baca:  Kelemahan Menjadi Virtual Assistant Yang Jarang Dibahas Influencer (Review Jujur)

Contoh lokal: Gojek punya referral program yang viral. Tokopedia punya free shipping yang trigger impulse buy. Di balik itu ada orang yang nge-test ratusan variabel: copy, gambar, timing push notif, dsb.

Cara buktiin lo punya skill ini:

  • Bikin side project: akun Instagram, TikTok, atau newsletter. Track follower growth, engagement rate. A/B test posting time.
  • Analisis case study: “Kenapa Shopee bisa grab market share dari Tokopedia di 2020?” Jawab pakai data dan funnel analysis.
  • Paham tools: Google Analytics, Mixpanel, Firebase. Bikin dummy project, implement tracking.

“Kita lebih suka hire fresh grad yang punya 10K followers di konten edukasi ketimbang IPK 3.9 tapi nggak pernah build anything.” – Head of Growth, e-commerce decacorn.

7. Adaptability & Learning Velocity

Ini skill paling penting tapi paling susah diukur. Startup unicorn bergerak cepat. Fitur yang hari ini jadi prioritas bisa besok dibunuh. Departemen bisa reorg dalam semalam. Lo harus comfortable being uncomfortable.

Real story: di awal pandemi, satu unicorn pivot 50% workforce ke project baru dalam 2 minggu. Yang survive? Orang yang cepet belajar tools baru, nanya banyak, dan nggak defensive kalau direpotin.

How to show this:

  • Di interview, ceritakan pengalaman lo belajar skill baru dalam waktu singkat (contoh: “Saya belajar Figma dari nol sampe bikin prototype dalam 3 hari untuk hackathon”).
  • Hindari jawaban “saya belum pernah, jadi nggak bisa.” Ganti dengan “saya belum pernah, tapi ini rencana saya belajar dalam seminggu.”
  • Follow tech news: DailySocial, Tech in Asia, e27. Tau tren terbaru (AI, crypto, super app). Tunjukkan awareness.

What Unicorn Recruiters Actually Look For

Skill di atas itu table stakes. Tapi ada satu X-factor: initiative. Mereka cari orang yang nggak cuma nunggu task, tapi proactively nge-identify problem dan propose solution.

Contoh: lo apply posisi Business Development. Di cover letter, lo attach 1-slide analysis: “Ini 3 partnership opportunity yang belum di-explore sama perusahaan, based on competitor mapping.” Trust me, CV lo langsung di-click.

Dan satu lagi: culture fit. Unicorn Indonesia biasanya punya nilai: customer obsession, bias for action, ownership. Research company values di website mereka, terus align story lo.

Final Reality Check

Masuk startup unicorn itu nggak semuanya glamor. Jam kerja bisa brutal, pressure tinggi, dan stabilitas nggak semegah bank BUMN. Tapi kalau lo mau belajar 10x lebih cepet, kerja sama dengan orang paling pintar di negara ini, dan lihat impact langsung, ini jalan yang tepat.

Start small. Pilih 2-3 skill dari list di atas. Deep dive 30 hari. Build portfolio. Apply intern/part-time dulu kalau perlu. Unicorn itu bukan tujuan akhir, tapi akselerator karier.

Good luck. See you at the next town hall.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Copywriter Vs Content Writer: Serupa Tapi Tak Sama, Kamu Cocok Di Mana?

Kamu pernah liat lowongan kerja yang judulnya Copywriter tapi tugasnya nulis blog?…

Kelemahan Menjadi Virtual Assistant Yang Jarang Dibahas Influencer (Review Jujur)

Virtual Assistant (VA) sering dipromosikan sebagai tiket emas menuju kebebasan finansial dan…

Pengalaman Kerja Menjadi Social Media Specialist: Tak Sekadar Scroll Tiktok (Suka Duka)

Kalau kamu pernah ngomong, “Ah, kerjaan Social Media Specialist itu enak banget,…

Menjadi Video Editor Freelance vs In-House Agency: Mana yang Lebih Cuan & Stabil?

Kalau kamu video editor yang lagi bingung milih jalan, aku yakin pertanyaan…