Bingung pilih jadi Account Executive atau Business Development? Banyak yang bilang target AE bikin stres, tapi BD juga nggak kalah berat. Kalau kamu lagi mikir-mikir soal ini, wajar banget. Dua-duanya memang punya tekanan, tapi beda jenis. Mari kita bedah realita target di kedua posisi ini—tanpa filter—biar kamu bisa pilih yang paling masuk akal buat kamu.

Perbedaan Inti yang Jarang Dibahas

Di permukaan, AE dan BD terlihat sama: cari klien, tutup deal. Tapi di lapangan, target mereka dibangun di atas fondasi yang berbeda. AE hidup di dunia quota yang konkret dan terukur. BD hidup di dunia pipeline dan hubungan jangka panjang yang abstrak.

Bayangkan begini: AE seperti atlet lompat jauh. Garis finish jelas: 5 meter, 6 meter, atau 7 meter. Kamu tahu persis kapan gagal atau kapan sukses. BD seperti pemain catur. Tidak ada angka pasti, tapi setiap gerakan harus membuka peluang menang di 10 langkah ke depan.

AE punya target bulanan atau kuartalan yang hitungannya rupiah atau unit. Gagal? Kamu langsung tahu. BD punya target kualitatif: jumlah pertemuan strategis, proposal yang diajukan, atau kesepakatan kerja yang masih berbulan-bulan jauhnya dari tanda tangan kontrak.

Target AE: Angka yang Menggigit

Target AE umumnya 5-10 kali gaji pokokmu per tahun. Kalau gajimu Rp 10 juta, target penjualan tahunanmu bisa Rp 50-100 juta per bulan. Bukan angka kecil. Dan ini bukan target “asal ada”—tapi harus realized revenue, artinya uangnya benar-benar masuk ke perusahaan.

Target AE tidak peduli alasan. Tidak cukup prospect banyak kalau tidak closing. Tidak cukup closing kalau klien bayarnya telat atau default. Tekanan langsung, nyata, dan seringkali tidak manusiawi.

Di startup SaaS, churn rate juga jadi musuh. Kamu harus tidak hanya menutup target, tapi juga mengganti pelanggan yang pergi. Di perusahaan korporat, account besar sering sudah dipegang veteran. Sisanya? Lead dingin yang belum tentu bisa dijangkau.

Realita Tekanan Harian AE

Setiap pagi, dashboard CRM jadi cermin mentalmu. Pipeline kering? Stres. Deal tertunda? Stres. Klien tiba-tiba ghosting? Stres. AE adalah profesi dengan tingkat burnout tertinggi di sales. Data dari HubSpot 2023 menunjukkan 67% AE merasa tidak mampu mencapai target yang ditetapkan manajemen.

Baca:  Profesi Agen Asuransi: Apakah Benar Income Tak Terbatas Atau Cuma Gimmick?

Target BD: Tekanan Abstrak yang Menyiksa

Kalau AE disiksa angka, BD disiksa ketidakpastian. Target BD sering terdengar “lebih ringan”: 5 kemitraan strategis per tahun, 10 pitch ke perusahaan besar. Tapi ini tipuan.

BD harus membangun sesuatu dari nol tanpa jaminan. Kamu bisa menghabiskan 6 bulan mengurus satu kemitraan, dan di menit ke-59, semuanya bubar karena keputusan direksi berubah. Targetmu “tercapai” tapi tidak ada revenue langsung. Manajemen mulai bertanya: “Apa yang sudah dibawa?”

Di BD, kesuksesan sering terli dua tahun kemudian. Tapi performance review-mu tetap tiap 3 bulan. Catch-22 yang nyata. Kamu bisa jadi BD terbaik di kuartal ini, tapi kalau tidak ada deal yang sign, tetap masuk daftar underperformer.

Realita Tekanan Mental BD

BD butuh stamina untuk ditolak berulang kali dengan sopan. Di korporat, kamu akan bertemu gatekeeper: legal, procurement, compliance. Setiap divisi punya agenda sendiri. Buy-in dari satu pihak tidak cukup. Kamu harus jadi politisi yang menjual solusi, bukan produk.

Data dari LinkedIn Economic Graph 2023: posisi BD memiliki tingkat turnover 35% di tahun pertama, bukan karena tidak mampu, tapi karena frustasi dengan timeline yang tidak jelas.

Bandhead-to-Head: Mana Target yang Lebih Masuk Akal?

Mari kita bandingkan secara langsung di tabel berikut:

Aspek Account Executive (AE) Business Development (BD)
Clarity Target Sangat jelas (angka rupiah/unit) Abstrak (kemitraan, MOU, pipeline)
Timeline Bulanan/kuartal, immediate 6-24 bulan, long-term
Kontrol atas Hasil Tinggi (kamu kontrol proses closing) Rendah (bergantung pada banyak pihak)
Feedback Loop Cepat (tahu sukses/gagal dalam hitungan minggu) Lambat (butuh bulanan untuk tahu efektivitas)
Tekanan Utama Angka yang tidak terbantahkan Ketidakpastian dan politik internal
Gaji & Komisi 50-70% gaji pokok, sisanya komisi 70-90% gaji pokok, bonus tahunan
Resesi-proof Rentan (pertama kali di-cut) Lebih aman (posisi strategis)

Personality & Skill Match: Kamu Cocok di Mana?

Target yang masuk akal tergantung pada working style-mu. Tidak ada yang universal. Ini bukan soal kuat atau lemah, tapi soal fit.

Kamu akan betah jadi AE kalau:

  • Kamu suka angka dan melihat progress harian yang terukur
  • Kamu punya stamina untuk 30-50 panggilan per minggu
  • Kamu tidak masalah dengan penolakan brutal dan langsung
  • Kamu ingin komisi besar dalam waktu cepat
  • Kamu bisa bekerja dalam sistem yang sudah ada (CRM, script, proses)

Kamu akan betah jadi BD kalau:

  • Kamu suka chess game dan strategi jangka panjang
  • Kamu punya stakeholder management yang kuat
  • Kamu sabar dengan proses korporat yang lambat
  • Kamu lebih suka gaji stabil daripada komisi fluktuatif
  • Kamu bisa menjual visi, bukan fitur produk

Karier Jangka Panjang: Siapa yang Lebih Aman?

AE punya ceiling yang jelas. Kamu bisa jadi Senior AE, kemudian Sales Manager, atau VP Sales. Tapi setiap kenaikan level, targetnya juga naik eksponensial. Banyak AE senior yang burnout di usia 35 tahun dan pindah ke BD atau customer success.

BD punya jalur yang lebih fluid. Kamu bisa jadi Head of BD, kemudian Director of Partnership, atau bahkan Chief Strategy Officer. Transisi ke C-level lebih umum di BD karena kamu sudah terbiasa berpikir strategis. Tapi butuh waktu 7-10 tahun untuk benar-benar terbukti.

Baca:  Resepsionis Vs Customer Service: Mana Yang Kerjanya Lebih Santai Dan Minim Komplain?

Data dari Payscale 2024: rata-rata AE di Jakarta dengan 5 tahun pengalaman menghasilkan Rp 180-250 juta per tahun (termasuk komisi). BD di level yang sama? Rp 150-200 juta, tapi dengan work-life balance yang jauh lebih baik.

Verdict: Mana yang Lebih Masuk Akal?

Jawabannya: AE jika kamu butuh bukti cepat dan siap main di lapangan yang keras. Target AE lebih “masuk akal” karena transparan. Kamu tahu persis apa yang harus dicapai. Tidak ada ruang untuk interpretasi. Kalau kamu orang yang jujur pada diri sendiri dan bisa menghitung, AE memberi kontrol maksimal.

BD jika kamu punya modal waktu dan nyaman dengan ketidakpastian. Target BD lebih “masuk akal” dalam artian tidak ada angka yang menghantui setiap malam. Tapi kamu harus tahan dengan perasaan “nggak jelas” apakah kerjamu dihargai atau tidak selama 1-2 tahun pertama.

Pilih AE kalau kamu jago sprint. Pilih BD kalau kamu kuat marathon. Tapi ingat: sprint yang terus-menerus adalah marathon yang kejam.

Framework Keputusan: 3 Pertanyaan Penting

Sebelum apply, tanyakan ini pada dirimu:

1. “Berapa lama kamu bisa hidup tanpa hasil yang terlihat?”

Kalau jawabannya “maksimal 3 bulan”, pilih AE. Kalau “sampai 1 tahun”, BD adalah pilihanmu.

2. “Apa yang lebih bikin kamu stres: angka yang tidak tercapai atau ketidakpastian?”

AE = stres angka. BD = stres ketidakpastian. Pilih racun yang kamu bisa telan.

3. “Gaji pokok atau komisi besar?”

Butuh cash flow stabil? BD lebih aman. Siap high risk high return? AE adalah jawabannya.

Catatan Penting: Target Bisa Dinegosiasi

Banyak kandidat yang tidak sadar: target itu bisa dinegosiasi sebelum menerima offer. Tanyakan pada hiring manager: “Target ini berdasarkan data historis apa?” dan “Berapa persen tim yang mencapainya tahun lalu?”

Kalau mereka tidak bisa jawab dengan data, itu tanda merah. Target yang masuk akal selalu punya benchmark. Jangan terima target “asal-asalan” hanya karena posisinya keren.

Dan ingat: job description itu iklan. Target sebenarnya biasanya 20-30% lebih tinggi dari yang ditulis. Selidiki dulu sebelum terlanjur terikat kontrak.

Kesimpulan: Tidak Ada yang Mudah, Tapi Ada yang Cocok

Tidak ada profesi sales yang tanpa target. Tapi target yang masuk akal bukan soal angkanya, tapi soal apakah kamu punya control dan support system untuk mencapainya.

AE memberi kontrol maksimal dengan tekanan maksimal. BD memberi ruang bernapas dengan ketidakpastian maksimal. Pilihan ada di tanganmu. Dan kalau sudah pilih, jangan setengah-setengah. Sales bukan untuk yang ragu-ragu.

Semoga membantu. Kalau masih bingung, coba apply di dua-duanya. Wawancara dengan hiring manager-nya. Tanyakan targetnya. Lihat mana yang responsnya lebih transparan dan masuk akal. Kadang, jawabannya bukan di posisinya, tapi di perusahaannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Kerja Staff Administrasi Gudang: Resiko Selisih Stok dan Potongan Gaji

Pernah dengar cerita horror tentang staff gudang yang gajinya dipotong Rp 500…

Pns Vs Pegawai Bumn: Perbandingan Gaji, Tunjangan, Dan Dana Pensiun 2025

Pilih jadi PNS atau pegawai BUMN? Dilema klasik yang bikin pusing generasi…

Hrd Recruiter Vs Hr Generalist: Pahami Bedanya Sebelum Melamar

Pernah denger istilah “HR” terus bingung kenapa ada yang jadi Recruiter, ada…

Dokter Umum Vs Dokter Spesialis: Perbandingan Lama Studi Dan Balik Modal Biaya Kuliah

Bingung antara jadi dokter umum atau melanjutkan spesialisasi? Waktu dan uang yang…