Saya masih ingat jelas saat menerima surat tawaran Management Trainee. Rasanya seperti memenangkan lotere karier: gaji menggiurkan, rotasi departemen, mentoring dari C-level, dan jaminan posisi manajerial dalam dua tahun. Tiga belas bulan kemudian, saya menyerahkan surat resign. Bukan karena gagal, tapi karena akhirnya sadar: program ini bukan jalan pintas menuju kesuksesan, tapi maraton dengan peta yang salah. Jika kamu merasa terjebak dalam ekspektasi yang tidak kunjung jadi kenyataan, mari kita bicara jujur soal apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu program MT.

Ekspektasi vs Realita: Jarak yang Menyedihkan

Program MT didesain untuk menarik talenta terbaik. Namun, jarak antara janji kampanye dan kehidupan sehari-hari seringkarena jurang yang mengejutkan.

1. “Proyek Strategis” vs “Asisten Semua Orang”

Ekspektasi: Kamu akan memimpin proyek transformatif yang langsung dilaporkan ke direksi. Realitanya? Kamu jadi orang yang disuruh-suruh untuk riset data, bikin slide presentasi hingga revisi ke-15, dan mengurus rapat yang tidak ada hasilnya.

Sebagian besar waktu dihabiskan untuk:

  • Membuat laporan yang tidak pernah dibaca
  • Menjadi “tukang print” atau “tukang coffee run” secara simbolis
  • Mengumpulkan data untuk presentasi bos yang mendadak
  • Menjadi buffer antara manajer dan staf reguler

2. “Mentoring dari Top Executive” vs “Halo-Halo yang Tidak Pernah Janjian”

Janji akses ke C-level sering hanya jadi gimmick rekrutmen. Dalam praktiknya, jadwal mereka padat dan kamu hanya prioritas ke-99. Sesi mentoring menjadi:

  • Pertemuan 15 menit yang sering di-cancel last minute
  • Obrolan umum tanpa arah spesifik
  • Mentor yang bahkan tidak ingat nama atau latar belakangmu

“Sebulan sekali saya punya jadwal makan siang dengan VP. Tiga kali di-cancel, satu kali dia datang 30 menit terlambat sambil cek email terus. Saya habiskan waktu mendengarkan curhatnya soal masalah anaknya sekolah, bukan karier saya.”

3. “Rotasi Cepat untuk Belajar” vs “Berganti-ganti Tanpa Kedalaman”

Rotasi 3-6 bulan terdengar menarik, tapi nyatanya kamu habiskan waktu:

  • Belajar sistem yang baru, lalu pindah sebelum menguasai
  • Meninggalkan proyek setengah jalan
  • Dianggap “orang baru” berulang-ulang, sehingga tidak dipercaya tugas berat
  • Tidak punya “rumah” atau tim yang benar-benar support
Baca:  Pns Vs Pegawai Bumn: Perbandingan Gaji, Tunjangan, Dan Dana Pensiun 2025

Hasilnya? CV yang luas tapi dangkal. Kamu tahu sedikit dari banyak hal, tapi tidak jago di satu hal spesifik.

Alasan Utama: Mengapa MT Memilih Mundur

Berdasarkan pengalaman pribadi dan cerita puluhan ex-MT, alasan resign tidak pernah sederhana. Ini kombinasi faktor yang saling menguatkan.

1. Burnout yang Tidak Diakui

Program MT sering dipaksa untuk “selalu tampil sempurna”. Kamu harus:

  • Jam kerja 60-70 jam seminggu menjadi norma
  • Weekend dihabiskan untuk belajar sistem baru
  • Tidak boleh keliatan lelah atau mengeluh
  • Stres performa karena terus dipantau

Realita angka: Dari 15 MT di batch saya, 4 resign karena masalah kesehatan mental dalam 18 bulan pertama. Tidak ada yang berani bicara karena takut dianggap “tidak kuat”.

2. Janji Karier yang Tidak Jelas

Banyak perusahaan tidak punya posisi manajerial kosong saat MT lulus. Hasilnya:

  • Posisi “holding” tanpa job description jelas
  • Ditempatkan di tim yang tidak butuh skill kamu
  • Gaji MT yang tinggi jadi beban, sehingga kamu yang pertama dipotong saat efisiensi

“Setelah dua tahun, saya malah jadi staff biasa dengan target lebih tinggi dari rekan seangkatan. Alasan HR? ‘Struktur sudah penuh, tunggu rotasi selanjutnya.’ Saya keluar dan dapat posisi manajerial di perusahaan lain dalam 3 bulan.”

3. Budaya Kerja yang Toxic

MT sering jadi target iri hati karyawan reguler. Dinamika ini menciptakan:

  • Gatekeeping informasi penting oleh senior staff
  • Gosip dan isolasi sosial
  • Tugas yang sengaja dibuat mustahil untuk “menguji” (baca: menjatuhkan)
  • Manajer yang merasa terancam dan sabotase karier

4. Miskin Akses dan Otonomi

Kamu dijanjikan “agen perubahan”, tapi tidak diberi kekuatan untuk berubah. Setiap ide harus melalui 5 lapisan persetujuan. Akhirnya, kamu:

  • Kehilangan kreativitas dan inisiatif
  • Menjadi eksekutor tanpa suara
  • Frustasi karena tidak bisa “make impact” sesuai janji

Tanda-Tanda Anda Perlu Pertimbangkan Keluar

Resign bukan keputusan mudah, tapi ada garis merah yang tidak bisa diabaikan:

1. Kesehatan fisik dan mental terus menurun
Jika kamu bangun setiap hari dengan perasaan dread, insomnia karena stres, atau gejala fisik seperti sakit perut dan pusing kronis, itu bukan hal normal. Itu tubuhmu meminta tolong.

Baca:  Review Kerja Staff Administrasi Gudang: Resiko Selisih Stok dan Potongan Gaji

2. Tidak ada learning curve lagi
Ketika semua hari terasa seperti groundhog day – tugas repetitif, tidak ada skill baru, dan feedback hanya “kerjakan saja” – kamu sedang buang-buang waktu.

3. Nilai-nilai personal bertabrakan
Misalnya kamu percaya pada work-life balance tapi perusahaan menghargai siapa yang paling sering lembur. Perbedaan nilai ini akan terus membuatmu tidak nyaman.

4. Janji karier terus ditunda
Jika setiap kali tanya soal posisi pasca-program jawabannya selalu “nanti dipikirkan” atau “tunggu kesempatan”, itu sinyal mereka tidak punya rencana konkret untukmu.

Apa yang Tidak Dikatakan: Dinamika Politik dan Budaya

Program MT sering jadi ajang perebutan kuasa antar-divisi. Kamu mungkin tidak sadar sedang jadi pion dalam permainan catur korporat.

Sponsorship vs Mentorship

Mentor hanya memberi nasihat. Sponsor yang kamu butuhkan: seseorang yang bakal taruh reputasinya untuk mendukung promosimu. Tanpa sponsor yang kuat, MT hanya program mahal tanpa ROI.

Batch War dan Favoritisme

Di banyak perusahaan, MT dari universitas “elite” atau yang punya koneksi internal selalu dapat proyek terbaik dan eksposur paling tinggi. Sisanya? Dibiarkan bertahan sendiri.

“Kami ada 20 orang di batch. 5 orang dari target kampus tertentu selalu dipanggil ke rapat penting. Sisanya? Kami diberi proyek ‘pengembangan’ yang tidak ada impactnya. Itu bukan meritokrasi, itu elitisme.”

Jadi, Apa Langkah Selanjutnya?

Resign bukan kekalahan. Ini keputusan strategis untuk mengambil kembali kontrol kariermu. Tapi lakukan dengan perhitungan.

Sebelum Resign: Lakukan Ini

  1. Dokumentasikan segala sesuatu: Simpan email, feedback, dan capaian konkret. Ini bukti saat interview nanti.
  2. Network di luar program: Bangun hubungan dengan karyawan reguler yang jujur. Mereka bisa jadi referensi.
  3. Hitung finansial: Pastikan punya dana darurat 3-6 bulan. Jangan resign dalam panik.
  4. Evaluasi learning: Apa skill konkret yang sudah didapat? Data analisis? Project management? Jual itu saat interview.

Saat Wawancara Baru: Framing Pengalaman MT

Jangan menjelek-jelekkan perusahaan lama. Fokus pada apa yang kamu pelajari dan mengapa posisi baru lebih aligned:

  • “Saya mencari lingkungan dengan otonomi lebih besar untuk implementasi ide”
  • “Saya ingin fokus pada spesialisasi, bukan generalisasi dangkal”
  • “Budaya kerja yang kolaboratif lebih penting bagi saya daripada label prestisius”

Kesimpulan: Memilih Jalanmu Sendiri

Program MT bisa jadi luncur luar biasa bagi yang tepat: orang yang tahan banting, punya jaringan kuat, dan beruntung dapat sponsor. Tapi bukan satu-satunya jalan menuju sukses.

Yang terpenting adalah mengenali kapan kamu sedang berinvestasi di masa depan, dan kapan kamu hanya membuang-buang energi demi nama. Karier bukan tentang seberapa cepat naik, tapi seberapa sustainable dan memuaskan perjalanannya.

“Resign dari MT bukan akhir. Saya sekarang bekerja di perusahaan menengah dengan posisi yang sesuai passion. Gaji lebih rendah 15% dari gaji MT, tapi saya pulang jam 6 sore punya energi untuk hidup. Itu trade-off yang sepadan.”

Jangan takut memilih jalan yang lebih lambat tapi lebih jelas arahnya. Kadang, mundur selangkah adalah satu-satunya cara untuk melangkah lebih pasti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Hrd Recruiter Vs Hr Generalist: Pahami Bedanya Sebelum Melamar

Pernah denger istilah “HR” terus bingung kenapa ada yang jadi Recruiter, ada…

Review Kehidupan Auditor Di Big 4: Gaji Besar Tapi Pulang Pagi?

“Gaji besar tapi pulang pagi” – kalimat ini jadi magnet sekaligus sumber…

Resepsionis Vs Customer Service: Mana Yang Kerjanya Lebih Santai Dan Minim Komplain?

Anda pasti bosan dengan klise “setiap pekerjaan ada tantangannya sendiri” kan? Kali…

Dokter Umum Vs Dokter Spesialis: Perbandingan Lama Studi Dan Balik Modal Biaya Kuliah

Bingung antara jadi dokter umum atau melanjutkan spesialisasi? Waktu dan uang yang…