Banyak yang bilang jadi driver ojol itu “mati gaya” sekarang. Order melambat, tarif makin ditekan, dan kompetisi bikin pusing. Kalau kamu lagi mikir serius soal full time di 2025, wajar banget ragu-ragu. Mari kita bedah realitanya—tanpa filter rose-tinted.

Realita Pasar: Sudah Jenuh, Tapi Belum Mati

Pasokan driver di kota besar memang oversupplied. Data internal dari beberapa basecamp menunjukkan penambahan driver baru masih 10-15% per tahun, sementara pertumbuhan order hanya 3-5%. Artinya? Perjuangan buat dapet order makin sengit, terutama di jam-jam biasa.

Tapi jenuh bukan berarti nol peluang. Area suburban dan kota menengah justru underserved. Bandung, Malang, Samarinda masih teriak-teriak kekurangan driver saat hujan atau weekend. Triknya: jangan terjebak di ekosistem Jakarta/Surabaya kalau mau survive.

Income Reality Check: Berapa Beneran Bisa Dibawa Pulang?

Anggapan “driver ojol bisa 1 juta per hari” sudah myth di 2025. Realita? Rp 150-300 ribu nett untuk 10-12 jam kerja di kota besar. Itu sudah potong bensin, pulsa, dan makan siang.

Untuk yang punya strategi, ada yang masih bisa tembus Rp 400-500 ribu—tapi butuh:

  • Target jam surge pricing (pagi 7-9, siang 12-13, malam 17-20)
  • Master area “berlubang”—tempat driver lain enggan masuk
  • Multi-apping: Gojek + Grab + Maxim secara simultan

Warning: 70% driver pemula tidak survive bulan ke-3 karena tidak hitung BEP (Break Even Point) dengan benar. Mereka baru sadar bensin + service fee + cicilan motor bikin income bersih jeblok.

Hidden Costs yang Sering Luput

Banyak yang terjebak hitungannya karena cuma lihat “dapat Rp 30 ribu per order”. Padahal:

  • Bensin: 30-40% income kotor. Pakai motor irit pun tetap sakit kalau nge-jemput 5 km cuma untuk order 2 km.
  • Service fee platform: 15-20% per order. Makin murah tarif, makin kecil untungmu.
  • Maintenance: Ban, rem, oli—minimal Rp 500 ribu per bulan untuk motor bekas. Kalau motor baru? Cicilan + service resmi bisa Rp 1,5 jutaan.
  • Asuransi & dana darurat: Tabrak atau motor mogok? Itu ongkamu sendiri. Platform cuma tanggung selama order aktif.
Baca:  Review Profesi Barista: Perbedaan Kerja Di Coffee Shop Lokal Vs Chain Besar (Starbucks/Fore)

Ilustrasi Hitungan Nyata (Per Hari)

Keterangan Driver Aktif (10 jam) Driver Pasif (6 jam)
Order Diterima 15-20 order 8-12 order
Income Kotor Rp 250-350 ribu Rp 120-180 ribu
Bensin (±40 km) Rp 60 ribu Rp 35 ribu
Service Fee (20%) Rp 50-70 ribu Rp 24-36 ribu
Nett Income Rp 140-220 ribu Rp 60-110 ribu

Strategi Bertahan Hidup (Bukan Cuma Tips)

Bukan soal “kerja keras”, tapi kerja cerdas. Driver senior yang masih untung punya playbook spesifik:

1. Zoning yang Tepat

Jangan ikut kerumunan di mall atau stasiun. Cari titik-titik “quiet but consistent”: kawasan kantor yang jauh dari basecamp, rumah sakit, atau kampus yang jam kelasnya aneh.

2. Multi-Apping dengan Prioritas

Jangan buka semua app sekaligus tanpa filter. Grab untuk jarak jauh (tarif lebih ok), Gojek untuk order banyak (poin dan incentive), Maxim untuk filler (saat sepi). Gunakan second phone agar tidak crash.

3. Relasi dengan Basecamp

Basecamp bukan cuma tempat ngopi. Mereka punya data real-time soal event, road closure, bahkan insider info soal promo platform. Jadi “anak basecamp” bisa dapet intel strategis.

Tanda-Tanda Kamu Bakal Cocok (Atau Nggak)

Full time ojol bukan untuk semua orang. Coba cek diri sendiri:

  • Cocok kalau: Kamu punya stamina fisik kuat, suka jalan-jalan, dan punya emotional control saat dapat customer rese. Kamu juga harus numbers-driven—hafal zona, hitung BEP, track income harian.
  • Gak cocok kalau: Kamu gampang stres di jalan, butuh stabilitas income bulanan, atau punya tanggungan keluarga besar. Income ojol itu spiky—bisa Rp 500 ribu hari ini, Rp 80 ribu besok.

Pivot & Exit Strategy: Rencana B

Driver paling bahaya itu yang all-in tanpa jalan keluar. Kamu harus punya timeline: “Kalau 6 bulan income nett di bawah Rp 4 juta/bulan, maka saya pivot.” Rencana B-nya bisa:

  • Upgrade skill: Ikut program micro-credential di platform digital. Banyak driver yang jadi freelance admin atau customer service remote setelah punya modal dari ojol.
  • Modal usaha kecil: Jualan aksesori motor, buka warung kopi, atau jasa cuci motor. Platform ojol bisa jadi customer acquisition channel.
  • Relasi: Bangun personal brand di TikTok/Instagram soal “kehidupan driver”. Bisa dapet endorse atau jadi influencer mikro niche transportasi.

Intinya: Jangan jadi driver seumur hidup kecuali kamu memang cinta. Gunakan itu sebagai cash flow bridge menuju sesuatu yang lebih sustainable.

Kesimpulan: Masih Menjanjikan? Ya, Tapi Bukan untuk Semua

2025 bukan tahun emas ojol, tapi juga bukan tahun kematiannya. Peluang masih ada di celah-celah yang driver pemula enggan sentuh. Tapi butuh grit, strategi, dan kalkulasi dingin.

Kalau kamu siap hitung tiap rupiah, gak masalah jadi “pengangguran terselubung” di mata orang lain, dan punya rencana exit yang jelas—full time ojol masih bisa jadi jalan sementara yang masuk akal. Tapi kalau cari “kerjaan gampang dapet duit”, ini jebakan.

Baca:  Resiko Kerja Di Pertambangan: Gaji Dua Digit Tapi Jauh Dari Keluarga, Sanggup?

Pilihan ada di tanganmu. Yang penting: Go in with eyes wide open, not with wishful thinking.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Profesi Barista: Perbedaan Kerja Di Coffee Shop Lokal Vs Chain Besar (Starbucks/Fore)

Pilihan jadi barista di coffee shop lokal atau chain besar kayak Starbucks/Fore…

Teknisi Hp Vs Teknisi Laptop: Peluang Usaha Jasa Mana Yang Lebih Cuan?

Banyak yang bilang jasa servis HP itu pasarnya lebih besar, tapi teknisi…

Kenapa Profesi Telemarketing Punya Turnover Tinggi? Review Tekanan Target

Turnover 50-80% per tahun bukan angka asing di dunia telemarketing. Kalau kamu…

5 Pekerjaan Part Time Untuk Mahasiswa Yang Tidak Mengganggu Jadwal Kuliah

Dompet menipis di tengah bulan sementara tugas kuliah menumpuk? Hampir semua mahasiswa…