Pernah denger istilah “HR” terus bingung kenapa ada yang jadi Recruiter, ada yang jadi HR Generalist? Seringkali kita asumsikan semua HR kerjanya sama: ngurus orang, ngadain event, atau nginterview calon karyawan. Padahal, keseharian mereka—dan bahkan skillset yang dibutuhkan—bisa beda seperti bumi dan langit. Sebelum kamu buang-buang waktu melamar ke posisi yang ternyata nggak cocok sama minat, yuk kita bedah dulu apa sebenarnya perbedaan kedua profesi ini.
Keseharian yang Nggak Kamu Bayangkan

HRD Recruiter: The Talent Hunter
Bayangkan kamu jadi headhunter internal perusahaan. Setiap pagi, inboxmu penuh CV yang belum disortir. Kamu nggak cuma ngobrol sama calon kandidat, tapi juga harus jadi detective—cari tahu apakah CV mereka bohong atau nggak.
Recruiter itu target-oriented. Kinerja diukur dari time-to-hire, quality of hire, dan berapa banyak posisi yang berhasil di-close dalam sebulan. Kamu bakal habiskan 70% waktu untuk:
- Screening ratusan aplikasi di job portal
- Telepon screening dan jadwal interview
- Negosiasi gaji sama kandidat (dan debat sama hiring manager)
- Buat laporan pipeline kandidat setiap minggu
- Networking di LinkedIn atau job fair
Recruiter itu seperti sales tapi produknya adalah pekerjaan. Kamu harus bisa “jualan” posisi ke kandidat terbaik sambil “jualan” kandidat ke hiring manager.
HR Generalist: The Jack of All Trades
Sementara itu, HR Generalist itu ibarat dokter keluarga. Kamu ngurus semua hal HR—tapi nggak dalam level super detail. Satu hari bisa ngurus payroll, besok ngurus training, lusa ngurus masalah disiplin karyawan.
Generalist lebih ke proses dan orang. Kamu adalah first point of contact buat semua karyawan. Kesehariannya penuh dengan:
- Bikin surat kontrak, SK, dan dokumen administrasi
- Jadi pendengar keluhan karyawan (beneran, ini bisa sampe 3 jam sehari)
- Koordinasi training dan penilaian kinerja
- Pastikan perusahaan patuh sama UU Ketenagakerjaan
- Handle absensi, cuti, dan tunjangan karyawan

Perbedaan Nyata dalam Satu Pandangan
Biar nggak bingung, ini perbandingan konkret berdasarkan data lapangan:
| Aspek | HRD Recruiter | HR Generalist |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Akuisisi talenta (hiring) | Pengelolaan sumber daya manusia |
| Metrik Sukses | Time-to-hire, offer acceptance rate | Employee satisfaction, compliance rate |
| Skill Kunci | Negosiasi, persuasi, analisis cepat | Administrasi, problem solving, UU Ketenagakerjaan |
| Jam Kerja | Often overtime saat hiring peak | Lebih terstruktur, tapi siap 24/7 kalo ada krisis |
| Gaji Entry-Level (Jabodetabek) | Rp 6-9 juta/bulan + bonus hire | Rp 5-8 juta/bulan + tunjangan tetap |
| Prospek Karier | Talent Acquisition Manager → Head of Talent | HR Manager → HRBP → HR Director |
Skill yang Nggak Bisa Ditukar
Mau jadi Recruiter? Kamu harus punya mental baja ditolak kandidat berkali-kali. Skill wajib: sourcing technique, interview behavioral, negosiasi gaji, dan paham pasar kerja. Misalnya, kamu harus tau kalau posisi IT Software Engineer lagi panas di pasaran, jadi gajanya naik 30% dari tahun lalu.
Kalau Generalist, kamu butuh ketelitian tingkat dewa. Salah hitung THR untuk 1 orang, bisa jadi masalah hukum. Skill wajib: paham UU 13/2003, payroll calculation, training design, dan conflict resolution. Biasanya, Generalist yang bagus itu punya sertifikasi Certified Professional in Human Resources (CPHR) atau sertifikasi dari BNSP.
Perlu diingat: Recruiter bisa jadi Generalist, tapi butuh waktu belajar administrasi. Sebaliknya, Generalist yang mau jadi Recruiter harus belajar skill “sales” dari nol.
Prospek Karier: Siapa yang Lebih Cepat Naik?
Recruiter punya jalur karier yang clear dan cepat—kalau kamu bagus. Dalam 3 tahun, kamu bisa naik jadi Senior Recruiter dengan gaji Rp 12-15 juta. Dalam 5 tahun, bisa jadi Talent Acquisition Lead di startup dengan esops. Tapi ada risiko: kalau ekonomi jelek dan hiring freeze, posisi Recruiter jadi first to be cut.
Generalist naiknya lebih lambat tapi stabil. Dari HR Staff ke HR Manager butuh 5-7 tahun. Tapi begitu jadi HR Business Partner (HRBP) di perusahaan besar, gaji bisa Rp 20-30 juta. Keuntungannya: selalu dibutuhkan di setua ekonomi apa pun. Perusahaan selalu butuh yang ngurus gaji dan masalah karyawan.
Personality Check: Kamu Cocok yang Mana?
Pilih Recruiter kalau kamu:
- Suka ngobrol sama orang baru setiap hari
- Tahan banting ditolak (bisa 10 kali sehari)
- Competitive dan suka target
- Tidak suka administrasi detail
Pilih Generalist kalau kamu:
- Suka stabil dan proses jelas
- Punya empati tinggi (beneran, bukan cuma bualan)
- Suka ngebikin sistem dan prosedur
- Sabar ngurusin keluhan (kadang sepele) karyawan
Transisi: Bisa Nggak Sih Ganti Jalur?
Bisa, tapi butuh usaha ekstra. Recruiter yang mau jadi Generalist harus turun gaji dulu buat belajar payroll dan UU. Biasanya mereka ambil sertifikasi HR dan mulai dari posisi HR Staff lagi. Prosesnya 1-2 tahun.
Generalist yang mau jadi Recruiter lebih mudah secara teknis, tapi butuh perubahan mindset. Harus belajar jadi “salesman” dan biasanya mulai dari Junior Recruiter atau Recruitment Coordinator. Tapi kalau kamu Generalist yang udah lama, skill interview-mu bisa jadi nilai plus.
Market Demand: Mana yang Lagi Dicari?
Data dari JobStreet Q1 2024: permintaan Recruiter naik 45% di sektor e-commerce dan fintech. Tapi permintaan Generalist justru lebih stabil, tumbuh 15% di sektor manufaktur dan retail. Saat startup lagi funding winter, lowongan Recruiter bisa turun drastis. Sementara lowongan Generalist tetap ada karena perusahaan butuh compliance.
Di perusahaan besar (1000+ karyawan), biasanya mereka hire both. Recruiter fokus hiring, Generalist fokus employee engagement. Di startup kecil, satu orang HR biasa harus jadi both—ini yang sering bikin burnout.
Realitas yang Jarang Dibahas
Recruiter sering dikira “cuma ngobrol.” Padahal, kamu bakal habisin waktu ngejar hiring manager yang nggak pernah respons email. Kadang posisi urgent, tapi budget gajinya pas-pasan. Kamu harus jadi magician cari talenta bagus dengan gaji pas-pasan.
Generalist sering jadi tempat curhat semua karyawan. Dari masalah gaji yang kurang 50 ribu, sampai konflik sama atasan. Kamu harus netral, tapi juga harus pro-karyawan. Dan kalau ada PHK, kamu yang harus hadapin karyawan yang marah-marah—padahal keputusan dari atas.
Kesimpulan: Pilih Berdasarkan Nyali, Bukan Hype
Jangan pilih jadi Recruiter cuma karena liat di LinkedIn banyak yang pamer closing kandidat. Jangan pilih Generalist cuma karena katanya lebih aman. Lihat ke diri sendiri: apa yang bisa kamu tanggung setiap hari selama 8 jam?
Kalau kamu suka adrenaline rush, target, dan interaksi cepat—Recruiter jalanmu. Kalau kamu suka stabilitas, proses, dan hubungan jangka panjang—Generalist rumahmu. Dan ingat, nggak ada yang salah. Yang penting, kamu paham apa yang kamu hadapi sebelum klik tombol “lamar”.
Pilihan karier itu kayak nikah. Lebih baik kenal dulu dalam-dalam, daripada nyesel di tengah jalan.