Turnover 50-80% per tahun bukan angka asing di dunia telemarketing. Kalau kamu pernah denger cerita orang resign dalam hitungan minggu, atau kamu sendiri lagi ngerasain tekanan yang bikin mikir dua kali, artikel ini buat kamu. Kita akan bahas apa yang sebenarnya terjadi di balik target-target yang terlihat “masuk akal” tapi seringnya nggak manusiawi.

Realita Tekanan Target yang Bukan Main

Bayangin ini: kamu duduk di kursi, headset menempel di telinga, dan di layar monitor ada angka yang terus bergerak. 100-150 panggilan per hari itu bukan target, itu adalah ekspektasi dasar. Manager lo ngomong “kan cuma telepon doang,” tapi kenyataannya, setiap “cuma telepon” itu punya beban psikologis.

Yang bikin makin berat: sistem conversion rate yang nggak peduli usaha, cuma liat hasil akhir. Kamu bisa bilang “saya sudah telpon 120 orang hari ini” tapi kalau cuma 2 yang beli, tetap dianggap gagal. Matematika kejam begini nggak nunjukin bahwa dari 118 panggilan lainnya, mungkin 90 diantaranya nge-hang up di detik pertama.

Angka-angka yang Menjebak

Perusahaan sering pakai data “industry standard” yang nggak relevan sama konteks lokal. Mereka liat laporan global bilang “conversion rate 5% itu normal” lalu terapin di sini tanpa mikir bedanya kultur komunikasi, daya beli, atau jam operasional.

  • Target call: 100-150/hari (8 jam kerja = kurang dari 3 menit per call)
  • Target closing: 3-5% dari total call
  • Talk time minimum: 120-180 detik per call (kalau nggak nyampe, dianggap nggak efektif)
  • After-call work: 30 detik untuk input data (sambil siap-siap call berikutnya)

Ritme ini berarti kamu nggak punya waktu buat nafas. Otak kamu harus switch dari rejection ke rejection tanpa jeda processing. Lama-lama, ini bikin burnout yang nggak kelihatan tapi nyata di sini (tapping kepala).

Ritme Kerja yang Menyesakkan

Algoritma dialer otomatis nggak peduli kamu lagi haus, mau ke toilet, atau baru aja ditolak kasar sama prospek. Setelah call selesai, kamu dapet waktu 5-10 detik sebelum sistem otomatis nyambungin ke nomor berikutnya. Ini namanya auto-dialer dan dia adalah mesin penghasil stres.

Bayangin lagi: kamu habis ditelepon ibu-ibu yang marah-marah karena dianggap ganggu, terus langsung harus senyum-senyum ngomong “Selamat siang, Bapak…” ke orang berikutnya. Emotional labor level dewa. Kamu nggak boleh bawa beban call sebelumnya, tapi otak manusia nggak punya tombol reset instan.

Baca:  Pengalaman Kerja Di Kapal Pesiar: Biaya Agen, Syarat Bahasa, Dan Total Gaji Bersih

Sisi Gelap yang Jarang Dibicarakan

Masalahnya nggak cuma soal angka. Yang bikin banyak orang cabut adalah dinamika internal yang nggak sehat. Kultur “hustle” yang dipaksain bikin kamu merasa bersalah kalau nggak lembur, padahal lembur di telemarketing seringkali nggak dibayar atau cuma dapet “insentif” yang nggak sebanding.

Rejection yang Menggerogoti

Orang bilang “tolak itu biasa.” Tapi dalam telemarketing, rejection rate bisa 90-95%. Artinya, dari 100 orang yang kamu hubungi, 90-an orang bakal bilang tidak, nge-hang up, atau bahkan ngatain kamu. Ini bukan cuma soal tebal tipis muka, tapi soal resilience yang harus dipakai terus-menerus.

Yang paling nggak adil: kamu nggak bisa kontrol kualitas data. Seringkali list nomor yang diberikan sudah expired, orangnya udah ditelfon berkali-kali, atau memang nggak qualified. Tapi target tetap jalan di atas kertas. Kamu yang disalahin kalau nggak closing.

Kultur “Hari Ini atau Tidak Pernah”

Manager suka bilang “target harian nggak boleh bawa besok.” Padahal, sales cycle itu punya dinamika sendiri. Prospek yang bilang “pikir-pikir dulu” itu sebenarnya masih hangat, tapi di sistem, belum closing = belum ada nilai. Kamu nggak dapet appreciation atas pipeline yang kamu bangun.

Telemarketing adalah maraton yang diperlakukan seperti sprint. Kamu harus lari cepat terus, tapi finish line selalu digeser 100 meter lagi setiap hari.

Kenapa Ini Bukan untuk Semua Orang

Salah satu alasan turnover tinggi adalah rekruitmen yang nggak tepat. Banyak perusahaan bilang “siapa aja bisa” karena butuh orang banyak. Padahal, nggak semua orang punya wiring psikologis yang cocok. Hasilnya? Frustrasi di kedua belah pihak.

Tipe Kepribadian yang Tahan Banting

Kamu butuh kombinasi langka: ekstrovert yang enjoy ngobrol, tapi juga punya kulit tebal buat rejection. Kamu harus bisa self-motivate tanpa external validation, karena 9 dari 10 interaksi nggak akan kasih feedback positif.

Yang seringkali sukses di bidang ini adalah orang-orang yang punya intrinsic motivation kuat. Mereka nggak butuh applause. Mereka liat rejection sebagai data, bukan penilaian personal. Tipe kayak gini, cuma 10-15% dari populasi umum.

Skill yang Sebenarnya Dibutuhkan

Perusahaan sering bilang “nanti dilatih.” Ya, dilatih script memang. Tapi skill penting yang nggak diajarin adalah:

  • Emotional regulation: Reset mood dalam 5 detik
  • Pattern recognition: Deteksi prospek beneran vs waster dalam 15 detik pertama
  • Strategic persistence: Tahu kapan harus push, kapan harus cut loss
  • Data storytelling: Nggak cuma baca script, tapi adaptasi alasan sesuai persona

Kalau kamu nggak punya dasar ini, belajar sambil kerja bisa jadi traumatic. Bayangin harus bangun skill ini sambil target ngejar setiap hari.

Baca:  Review Profesi Barista: Perbedaan Kerja Di Coffee Shop Lokal Vs Chain Besar (Starbucks/Fore)

Poin Terang di Tengah Kegelapan

Nggak semuanya hitam. Telemarketing, meski brutal, punya sisi positif yang nggak bisa diabaikan. Banyak orang justru bangun karir dari sini karena skill yang dipaksa dipelajari ternyata transferable dan valuable.

Skill Transferable yang Berharga

Setelah survive 6-12 bulan di telemarketing, kamu punya kekebalan super. Kamu jadi jago komunikasi, jago nego, dan nggak takut sama rejection. Ini adalah skill yang langka dan mahal harganya di dunia profesional.

Orang yang pernah jadi telemarketer biasanya jadi sales lapangan yang killer, account manager yang tangguh, atau bahkan trainer yang empati tinggi karena pernah di posisi terbawah. Mereka belajar active listening secara paksa, belajar handle objeksi, dan belajar manage ekspektasi.

Orang-orang yang Justru Cocok

Ada orang yang justru thrive di lingkungan begini. Mereka yang suka challenge jangka pendek, yang nggak suka kerjaan monoton, yang butuh feedback instan (walau negatif). Mereka merasa hidup di tekanan.

Ada juga yang pakai telemarketing sebagai stepping stone sambil cari kerjaan lain. Dengan catatan: punya rencana exit yang jelas dan nggak terjebak. 3-6 bulan cukup untuk belajar skill dasar tanpa burnout parah.

Tips Realistis untuk Bertahan (Kalau Memang Mau Coba)

Kalau kamu terpaksa atau memang mau coba, ini strategi survival dari para veteran yang pernah saya coaching:

  1. Atur ekspektasi personal: Jangan samakan nilai diri sama conversion rate. Angka itu cuma data, bukan definisi kamu.
  2. Bangun ritual reset: Setelah call buruk, tarik nafas 5 detik, tutup mata, bayangin buang beban. Ini nggak kedengeran keren tapi efektif.
  3. Pakai istirahat secara strategis: Jangan skip break. 10 menit di pantry buat ngobrol sama teman sejawat bisa jadi therapy gratis.
  4. Track data pribadi: Catat jenis prospek mana yang paling sering closing. Fokus energi di sana, jangan habisin waktu di cold lead yang jelas-jelas nggak qualified.
  5. Tetapkan deadline mental: “Kalau 3 bulan nggak improve, saya cabut.” Ini penting biar nggak terjebak dalam siklus frustasi.

Ingat: bertahan bukan selalu pilihan terbaik. Kadang, cabut sebelum burnout parah itu keputusan yang lebih dewasa.

Kesimpulan: Pilihan yang Butuh Pengakuan

Turnover tinggi di telemarketing bukan karena orang-orangnya “lembek” atau “nggak niat.” Ini adalah respons alami terhadap sistem yang nggak sustainable. Tekanan target yang irasional, kultur yang nggak support, dan reward yang nggak sebanding bikin orang pilih pergi demi kesehatan mental mereka.

Kalau kamu lagi di posisi ini dan mikir untuk resign, itu valid. Kamu nggak gagal; kamu cuma manusia. Tapi kalau kamu memang punya alasan kuat untuk bertahan, pastikan kamu punya strategi dan batasan yang jelas.

Telemarketing bisa jadi batu loncatan atau batu nisan karir. Perbedaannya ada di seberapa cepat kamu belajar, dan seberapa sadar kamu tentang batasan diri sendiri.

Pilihan ada di tanganmu. Yang penting, jangan biarkan angka di layar mendikte nilai kamu sebagai profesional. Kamu lebih dari conversion rate. Kamu lebih dari talk time. Dan kamu berhak diperlakukan seperti manusia, bukan robot penjual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Gaji & Tugas Admin Online Shop: Apakah Worth It Dengan Gaji Umr?

“Kerja di rumah, cuma chat-chat doang, gaji UMR? Mantap!” Kalimat itu sering…

Driver Ojol Full Time Di 2025: Masih Menjanjikan Atau Sudah Saturation?

Banyak yang bilang jadi driver ojol itu “mati gaya” sekarang. Order melambat,…

Sisi Gelap Menjadi Pramugari Yang Jarang Orang Tahu (Syarat Fisik & Mental)

Pernah melihat pramugari dengan senyum sempurna di bandara dan berpikir, “keren banget,…

Resiko Kerja Di Pertambangan: Gaji Dua Digit Tapi Jauh Dari Keluarga, Sanggup?

Bayangkan gaji 20 juta per bulan mengalir ke rekening, tapi anak ulang…