Kalau kamu video editor yang lagi bingung milih jalan, aku yakin pertanyaan ini bikin pusing setiap malam: “Freelance aja biar gaji gede, atau agency dulu buat stabil?” Bukan cuma kamu. Hampir semua editor yang pernah kutemui, dari yang baru satu tahun ngutak-ngatik Premiere sampai yang udah 10 tahun di industri, pernah terjebak di persimpangan ini.
Aku nggak bakal kasih jawaban “tergantung situasi” yang hambar. Kita akan bedah angka, realita, dan dinamika yang sebenarnya terjadi di lapangan. Biar kamu bisa decide dengan data, bukan cuma ikut-ikutan tren di LinkedIn.
Kenapa Pertanyaan Ini Nggak Bisa Dijawab dengan “Tergantung” Semata
Banyak artikel bilang “pilih sesuai kepribadian.” Tapi kenyataannya, faktor kepribadian cuma 30% dari keseluruhan puzzle. Sisanya adalah timing pasar, kondisi finansial pribadi, dan tipe skill yang kamu miliki.
Editor motion grafis yang jago bikin explainer video animated punya pasar freelance yang beda jauh sama editor yang spesialis di documentary. Sementara editor in-house di agency iklan TV punya kecepatan kerja dan tekanan yang beda dengan editor di agency digital yang fokus ke Instagram Reels.

Realita Pendapatan: Angka yang Jarang Dibicarakan
Ayo kita bicara uang. Bukan teori, tapi angka yang aku ambil dari ratusan percakapan dengan editor di Indonesia dan data dari platform freelance.
Freelance: Feast or Famine Cycle
Di tahun pertamamu jadi freelance, realistisnya kamu bakal ngantongin Rp 5-15 juta per bulan kalau udah punya portfolio cukup. Tapi ingat, itu belum dipotong biaya software, internet, pajak, dan waktu nganggur.
Editor freelance yang udah established di Jakarta biasa charge Rp 2-5 juta per hari kerja untuk proyek komersial. Kalau mampu nge-lock 15-20 hari kerja efektif per bulan, ya, kamu bisa ngecek Rp 30-60 juta. Tapi hari kerja efektif itu cuma 60% dari waktu yang tersedia karena kamu harus prospecting, meeting, revisi, dan downtime.
Seorang editor senior di Bandung pernah cerita: dia cuan gede Rp 45 juta di bulan Januari, tapi Februari-Mei cuma dapet Rp 8 juta total karena satu klien besar cancel proyek. Itu namanya income volatility yang bikin banyak freelance akhirnya balik ke kerjaan tetap.
In-House: Gaji Tetap dengan “Hidden Ceiling”
Editor junior di agency digital Jakarta umumnya digaji Rp 6-9 juta. Setelah 3-5 tahun naik jadi Rp 12-18 juta sebagai mid-level. Senior editor bisa nge-cap di Rp 20-30 juta tapi itu udah dekat dengan ceiling kecuali kamu naik jadi Head of Production atau Creative Director.
Yang jarang dibahas: gaji tetap itu stabil, tapi kenaikan tiap tahun cuma 5-10% kalau performa bagus. Sementara inflasi skill kamu naik 20-30% per tahun kalau terus belajar. Jadi dalam 5 tahun, kamu bisa jadi underpaid secara market value tapi terjebak di kontrak.
Di agency besar yang handle brand internasional, ada bonus project-based yang bisa nambah 1-3 bulan gaji per tahun. Tapi itu juga tergantung politik kantor dan seberapa visible kontribusimu.
Stabilitas Finansial: Lebih dari Sekadar Slip Gaji
Stabilitas bukan cuma soal angka di rekening tiap 25. Ini soal predictability dan resilience.
Freelance punya emergency fund wajib minimal 6 bulan pengeluaran. Tanpa itu, satu klien telat bayar bisa bikin kamu kena telat bayar kos. Sementara editor in-house cukup punya 2-3 bulan pengeluaran karena ada THR, asuransi, dan cuti panjang.
Asuransi kesehatan? Kalau freelance, kamusendiri yang urus. Bayar sendiri ke BPJS kelas 1 itu sekitar Rp 150-200 ribu per bulan, tapi kalau mau yang lebih komprehensif, siapkan Rp 500 ribu – 1 juta. Editor in-house biasanya dapat dari kantor plus asuransi tambahan yang nilainya bisa Rp 2-3 juta per tahun.
![]()
Work-Life Balance: Mitos dan Fakta
Kamu mungkin mikir freelance = bebas atur waktu. Fakta? Kamu justru kerja lebih banyak tapi di jam yang nggak terprediksi.
Editor in-house agency punya jam kerja resmi 9-6, tapi crunch time sebelum deadline bisa sampe jam 10 malam atau weekend. Bedanya, kalau udah lewat deadline dan proyek selesai, kamu bisa istirahat tanpa mikir cari klien baru.
Freelance punya fleksibilitas nolak proyek, tapi tekanan finansial bakal paksa kamu ambil job yang nggak sehat. Aku pernah lihat editor freelance yang ambil 3 proyek sekaligus karena takut kehilangan momentum, akhirnya burnout dan menghilang 3 bulan dari semua platform.
Yang paling realistis? Work-life balance itu diciptakan, bukan ditemukan. Editor in-house bisa punya boundary kalau punya atasan yang paham. Freelance bisa punya boundary kalau punya disiplin bajet dan nggak takut nolak.
Skill Development: Spesialisasi vs Generalisasi
Ini bagian yang krusial tapi sering diabaikan. Pilihanmu akan nentuin trajectory skill 5 tahun ke depan.
Di agency, kamu bakal spesialisasi dalam satu genre. Agency social media content bakal bikin kamu jago edit 60 detik video dengan pacing cepat dan text overlay. Tapi kamu nggak pernah sentuh color grading cinematic atau sound design kompleks karena ada divisi lain.
Freelance memaksa kamu jadi generalist. Hari ini edit wedding video, besok explainer video untuk startup, lusa motion grafis untuk event. Kamu belajar banyak, tapi depth-nya nggak sekuat specialist. Kecuali kamu sengaja pivot dan nolak job di luar niche.
Data dari Skillshare dan Udemy menunjukkan: editor freelance yang survive lebih dari 3 tahun adalah mereka yang punya niche—misalnya khusus video course, atau khusus music video. Sementara editor in-house yang naik jabatan adalah mereka yang dalam 2 tahun pertama udah jadi go-to person untuk satu tipe proyek.
Lingkungan Kerja: Dari Kolaborasi hingga Isolasi
Editor in-house agency hidup di ekosistem feedback loop. Kamu punya creative director, art director, client servicing, dan tim lain yang kasih masukan langsung. Ini bikin kerjaanmu lebih terarah, tapi juga lebih banyak politik kantor dan revisi yang nggak masuk akal.
Freelance? Isolasi adalah musuh terbesar. Kamu ngadep laptop 8-12 jam sendirian. Kalau stuck, nggak ada teman sebangku untuk brain storm. Komunitas online bisa bantu, tapi nggak se-real-time ngobrol di pantry.
Tapi ada trade-off positif: freelance ngasih kamu kebebasan kreatif. Klien bayar untuk hasil, bukan proses. Selama deliver sesuai brief, kamu bisa eksperimen. Di agency, setiap 15 detik video bisa jadi ada 4 stakeholder yang mau approve.

Long-Term Career Path: Mana yang Bisa Dibawa Pensiun?
Pertanyaan jarang dibahas: setelah 15-20 tahun, mau jadi apa?
Editor in-house punya jalur jelas: Senior Editor -> Head of Production -> Creative Director -> Chief Creative Officer. Atau pindah ke sisi klien jadi Brand Manager. Network yang terbangun di agency bisa jadi jalan keluar kalau kamu muak edit.
Freelance? Trajectory-nya beda. Bisa jadi studio owner (rekrut editor lain), educator (jual course online), atau creative director freelance yang nggak edit lagi tapi direct. Tapi semua itu butuh branding pribadi yang kuat. Kalau cuma jadi “tukang edit,” umur 40 tahun nanti bakal kalah sama editor muda yang lebih murah dan lebih update.
Statistik dari Upwork menunjukkan: 76% freelancer di creative field yang berumur di atas 40 tahun punya passive income stream (course, asset store, atau studio). Sementara editor in-house yang di atas 40, 60% udah pindah ke posisi managerial.
Tabel Perbandingan Realistis
| Aspek | Freelance (Established) | In-House Agency (Mid-Senior) |
|---|---|---|
| Pendapatan Bulanan | Rp 15-60 juta (volatile) | Rp 12-25 juta (predictable) |
| Stabilitas Finansial | Tergantung pipeline & payment term | Tinggi (THR, asuransi, bonus) |
| Jam Kerja | 40-60 jam/minggu (flexible) | 45-55 jam/minggu (structured) |
| Skill Development | Generalist, self-directed | Specialist, mentor-led |
| Social Interaction | Isolasi tinggi | Kolaborasi tinggi |
| Career Ceiling | Studio owner / Educator | CCO / Brand side |
| Modal Awal | Rp 25-50 juta (gear + runway) | Rp 0 (cukup portfolio) |
Kapan Harus Pilih Freelance?
Pilih ini kalau:
- Kamu punya runway 6 bulan tabungan untuk hidup tanpa income
- Portfolio sudah cukup kuat untuk menarik klien ke-1 dan ke-2 dalam 2 bulan pertama
- Kamu punya niche yang jelas dan sudah ada demand di market
- Disiplin finansial di atas rata-rata—bisa bedakan uang bisnis dan pribadi
- Tahan isolasi dan punya jaringan support (komunitas, mentor)
Ideal timing: setelah 2-3 tahun pengalaman agency. Kamu udah tahu pipeline, punya network, dan portfolio yang cukup variatif.
Kapan Harus Pilih In-House?
Pilih ini kalau:
- Kamu butuh struktur untuk belajar—masih butuh feedback dan arah yang jelas
- Kondisi finansial nggak memungkinkan risiko (punya tanggungan keluarga, cicilan)
- Skill masih general dan butuh spesialisasi untuk naik value
- Butuh network yang terstruktur—agency adalah tempat tercepat bangun relasi industri
- Belum punya niche yang jelas—agency bisa jadi laboratorium eksperimen
Agency juga jalan terbaik kalau kamu ambisius naik corporate ladder atau punya rencana pindah ke brand side di tahun ke-5.
Hybrid Model: Jalan Tengah yang Banyak Dilupakan
Ini strategi yang paling banyak sukses: kerja in-house di agency kecil/menengah sambil terima freelance selective.
Aturan mainnya: jangan serang agency tempatmu kerja atau klien mereka. Ambil freelance di niche yang berbeda atau pasar yang nggak overlap. Misalnya, kamu kerja di agency iklan, terima freelance video course atau music video indie.
Keuntungannya: income stability dari gaji + upside dari freelance. Kamu tetap punya struktur belajar tapi juga mulai bangun pipeline. Di tahun ke-2, kalau freelance sudah stabil, kamu bisa resign dan fokus full-time.
Data menunjukkan: 70% freelance yang survive di tahun pertama pernah kerja hybrid. Mereka yang langsung loncat tanpa jaringan biasanya kembali ke dunia corporate dalam 18 bulan.
Kesimpulan: Ini Tentang Definisi “Cuan” & “Stabil” versi Kamu
Jadi, mana yang lebih cuan? Freelance punya potensi income lebih tinggi, tapi volatility-nya bikin “cuan” itu nggak terasa cuan kalau kamu selama 3 bulan nggak bisa tidur nyenyak.
Mana yang lebih stabil? In-house stabil secara prediksi bulanan, tapi “stabilitas” itu bisa jadi jebakan golden handcuffs yang bikin kamu nggak berani keluar walau udah underpaid.
Truth bomb: Pilihan yang “benar” adalah yang bikin kamu bisa survive 3 tahun ke depan sambil tetap grow. Bukan yang bikin kamu terlihat sukses di Instagram tapi stres di belakang layar.
Kalau umurmu di bawah 28, nggak ada tanggungan, dan punya tabungan 6 bulan, coba freelance. Tapi masuk komunitas, cari mentor, dan jangan isolasi.
Kalau kamu punya tanggungan atau masih butuh belajar struktur, pilih agency yang bagus—bukan agency yang exploit tapi yang punya client quality dan mentor yang mau ajar.
Yang terpenting: jangan jadi editor yang cuma bisa edit. Baik freelance atau in-house, skill komunikasi, manajemen proyek, dan strategic thinking bakal nentuin seberapa jauh karirmu. Dan itu, bisa dipelajari di jalur mana pun yang kamu pilih.
