Kalau kamu lagi bingung milih antara jadi guru honorer di sekolah atau guru di bimbel, pertanyaan pertamanya pasti: “Mana yang lebih nguntungin?” Bukan cuma soal gaji pokok, tapi stabilitas, tunjangan, dan masa depan karier. Tenang, kita bahas semuanya dengan angka realistis dan cerita dari lapangan.
Gaji Pokok: Angka di Kontrak vs di Lapangan
Guru honorer di sekolah negeri/swasta umumnya digaji dari APBN-B atau kas sekolah. Nominalnya? UMK daerah jadi patokan standar. Di Jakarta, sekitar Rp4,8–5 juta per bulan. Di kota kecil, bisa cuma Rp2–3 juta. Itu belum dipotong BPJS yang kadang ditanggung sendiri.
Di bimbel, gaji dasar lebih rendah—rata-rata Rp3–4 juta untuk guru baru. Tapi tunggu dulu. Sistemnya base salary plus commission. Kamu bisa tambah Rp50–150 ribu per pertemuan, tergantung jumlah murid. Guru senior di bimbel top kayak Ganesha Operation atau Primagama bisa bawa pulang Rp8–15 juta per bulan kalau penuh sesak.

Bedanya: gaji honorer itu fixed meski sepi jam mengajar. Bimbel? Zero hour contract—kalau nggak ada murid, gaji dasar aja yang masuk.
Sumber Penghasilan Tambahan
Guru honorer punya side hustle wajib: les privat. Honor mengajar di sekolah cuma Rp25.000–50.000 per jam. Nggak cukup hidup. Jadi, sore-malam harus ngejar les di rumah murid. Kadang malah tambah di bimbel juga. Total jam kerja bisa 12–14 jam sehari.
Guru bimbel? Penghasilan tambahan sudah built-in. Ada bonus perekrutan murid (Rp200–500 ribu per murid), insentif target, dan uang lembur kalau ngajar malam. Tapi nggak bisa sembarangan ngajar privat—biasanya ada non-compete clause di kontrak.
Stabilitas vs Fleksibilitas
Honorer punya stabilitas semu. Kontrak tahunan, tapi setiap Juni kamu harus apply lagi. Nggak ada jaminan diperpanjang. PHK? Cuma lewat surat singkat. Nggak ada pesangon. Tapi kalau sudah 5–10 tahun di satu sekolah, biasanya aman—sampai ada PHK massal karena efisiensi.
Bimbel? At-will employment. Murid sepi, kamu dipotong jam. Target nggak tercapai 3 bulan berturut-turut, bisa diberhentikan besoknya juga. Tapi kamu bebas pindah bimbel tanpa surat keterangan kerja ribet. Lingkup fleksibilitas lebih tinggi.
Kapan Honorer Lebih Aman?
- Kalau sudah jadi favorit kepala sekolah dan komite.
- Sekolah punya dana bos besar dan siswa banyak.
- Kamu punya sertifikat penggerak atau pengawas sekolah.
Kapan Bimbel Lebih Aman?
- Bimbel sudah franchise besar dengan ribuan murid.
- Kamu ngajar mapel high demand seperti matdas, fisika, atau bahasa Inggris TOEFL.
- Punya personal branding kuat di media sosial.
Tunjangan dan Benefit yang (Tidak) Kamu Dapat
Guru honorer di sekolah negeri biasanya dapat BPJS Kesehatan—tapi sering yang kelas III. BPJS Ketenagakerjaan? Jarang. THR? Kadang setengah gaji, kadang cuma bonus Rp500 ribu. Cuti? Nggak ada cuti berbayar. Sakit? Gaji dipotong.
Bimbel besar kayak Ruangguru atau Zenius sudah wajibkan BPJS semua. THR 1 gaji penuh. Ada asuransi kecelakaan. Tapi bimbel kecil? Sama aja dengan honorer—serba nanggung.
Catatan penting: Guru honorer nggak dapat tunjangan profesi (hanya untuk PNS). Guru bimbel juga nggak. Jadi sama-sama out of the system kalau soal tunjangan pemerintah.
Beban Kerja di Balik Gaji
Honorer di sekolah harus ikut semua rapat, pengisian nilai online, ekstrakurikuler, dan dinas luar—semua tanpa insentif tambahan. Kerjaan administratif bisa makan 30–40% waktu. Tapi kamu punya status sosial “guru sekolah” yang dihormati orang tua.
Guru bimbel fokus ngajar dan follow up murid. Nggak ada rapat guru, nggak ada tata usaha yang nyuruh-nyuruh. Tapi kamu harus jadi sales juga—rayu murid agar lanjut bayar. Target retention rate 80% itu nyata. Tekanan mental dari ortu yang mau nilai anak naik 20 poin dalam sebulan.
Prospek Karier Jangka Panjang
Honorer punya satu jalan: jadi PNS. Tapi sekarang kuota guru PNS hampir nol. Jalur honorer → CPNS → PNS sudah jarang terbuka. Alternatifnya: jadi guru tetap yayasan (GTY) di swasta besar. Gajinya lebih baik, tapi tetap nggak ada pensiun.
Bimbel punya jalur horizontal: senior teacher → academic manager → franchise owner. Atau keluar dan buat bimbel sendiri. Banyak guru bimbel sukses jadi edupreneur dengan modal relasi murid. Tapi nggak ada pensiun juga. Semua tabungan sendiri.

Kualitas Hidup: Mana yang Lebih “Worth It”?
Guru honorer punya work-life balance buruk kalau hitung les sambilan. Tapi punya jaringan sosial kuat di lingkungan sekolah. Teman sejawat, alumni, komite—semua bisa jinjit karier. Kepuasan mengajar lebih tinggi karena ngajar siswa regular, bukan cuma yang mampu bayar.
Guru bimbel punya work-life balance lebih baik kalau sudah senior—bisa pilih jam. Tapi burnout tinggi karena ngajar materi yang sama berulang-ulang. Hubungan dengan murid transaksional. Kalau murid nggak naik nilai, kamu yang disalahin. Nggak ada ikatan emosional kayak di sekolah.
Tabel Perbandingan Realistis
| Aspek | Guru Honorer | Guru Bimbel |
|---|---|---|
| Gaji per bulan | Rp2,5–5 juta (fixed) | Rp3–15 juta (variabel) |
| Penghasilan tambahan | Les privat (wajib) | Bonus murid & target |
| Stabilitas kerja | Kontrak tahunan, nggak ada pesangon | At-will, bisa diberhentikan kapan saja |
| BPJS & THR | Seadanya (sering nggak ada) | Lengkap (bimbel besar) |
| Beban administrasi | Tinggi (rapat, dinas, ekstra) | Rendah (fokus ngajar) |
| Prospek karier | Jadi PNS (hampir mustahil) | Manager atau wirausaha |
| Prestise sosial | Tinggi (dianggap PNS) | Menengah (dianggap “tukang les”) |
Kesimpulan: Mana yang Cocok untukmu?
Pilih guru honorer kalau kamu:
- Mau stabilitas minimal dan prestise sosial.
- Siap ngajar les privat sampai malam demi tambahan.
- Punya jaringan kuat di pemerintahan untuk peluang PNS.
- Nggak masalah gaji pas-pasan demi kepuasan mengajar masyarakat.
Pilih guru bimbel kalau kamu:
- Mau fleksibilitas dan punya skill jualan.
- Ngajar mapel high demand dan punya personal branding.
- Siap ambil risiko PHK kapan saja demi penghasilan tinggi.
- Nggak butuh status “guru negeri” dan fokus ke finansial.
Realita pahitnya: Kedua profesi ini sama-sama nggak ada jaminan pensiun dan keduanya mengharuskan kamu jadi pekerja keras. Bedanya, honorer menawarkan security illusion sedangkan bimbel menawarkan financial freedom illusion. Pilihan ada di tanganmu: mau aman tapi sempit, atau bebas tapi berisiko.
Yang terpenting: jangan jadi guru cuma karena “panggilan hati” tanpa hitung-hitungan finansial. Hati nggak cukup bayar kos dan makan. Pahami sistem, hitung kebutuhanmu, baru deh decide. Kalau perlu, coba 1 tahun di salah satu, lalu evaluasi. Karier itu eksperimen, bukan janji abadi.