Bayangkan gaji 20 juta per bulan mengalir ke rekening, tapi anak ulang tahun ke-3 tanpa ayah di sampingnya. Itu bukan skenario melodramatis, tapi realita harian ribuan pekerja tambang di Indonesia. Pertanyaannya bukan “berapa besarnya gaji”, tapi “berapa harganya?”

Gaji “Dua Digit” yang Tidak Sekilat Itu
Ketika orang bilang “gaji tambang dua digit”, mereka sering lupa menyebut detailnya. Untuk fresh graduate teknik pertambangan di Kalimantan atau Papua, gaji pokok 8-12 juta memang biasa. Tapi setelah ditambah tunjangan site, overtime, dan bonus kinerja, take-home pay bisa 18-25 juta per bulan.
Yang jarang di-share: itu adalah 12 jam kerja sehari, 7 hari seminggu selama di site. Hitungan per jamnya? Bisa lebih murah dari pekerja kantoran Jakarta yang pulang tiap malam ke rumah.
Untuk posisi senior (superintendent, manager), memang bisa Rp 50-100 juta. Tapi di level itu, beban tanggung jawab safety dan produksi bisa bikin rambut memutih dini. Satu insiden fatal di bawah pengawasanmu, karir bisa berhenti seketika.
Rotasi: 20 Hari Hilang, 10 Hari “Libur”
Sistem kerja tambang paling umum: 20/10 atau 28/14. 20 hari di site, 10 hari di rumah. Kedengarannya seimbang? Mari kita realistis.
20 hari di site berarti benar-benar off-grid. Tidak ada mall, tidak ada Grab, tidak ada karaokean akhir pekan. Hanya mess, kantor, dan lapangan. Koneksi internet? Kalau hujan, Wi-Fi di mess bisa mati berhari-hari. Sinyal HP sering bergantung pada satu tower BTS yang juga sering mogok.
10 hari “libur” bukan 10 hari full quality time. Dua hari pertama habis untuk travel (site ke bandara, bandara ke kota). Dua hari terakhir habis untuk persiapan kembali ke site. Sisanya? Harus dibagi antara istri, anak, orang tua, dan urusan administratif yang menumpuk.
Seorang site engineer di Papua bilang begini: “Saya punya istri dan dua anak. Tapi istri saya kayak single parent. Anak saya bilang ‘Papa tinggal di pesawat’ karena lebih sering lihat saya di airport daripada di rumah.”
Kondisi Site: Dari Mess Hingga Kesehatan Mental
Fasilitas mess modern memang sudah lumayan: AC, kasur, kamar mandi dalam, gym sederhana, mushola. Tapi itu semua dalam kawasan terpagar. Kamu tidak boleh keluar sembarangan karena alasan safety dan keamanan.
Enjaul diri sendiri. Itu istilah pekerja tambang untuk menggambarkan isolasi psikologis. Depresi ringan sampai sedang tidak jarang terjadi, terutama pada bulan pertama atau ketika ada masalah keluarga di rumah tapi kamu tidak bisa pulang.
Data dari Kemenkes menunjukkan tingkat stres kerja di pertambangan 40% lebih tinggi daripada industri lain. Angka perceraian di kalangan pekerja tambang juga di atas rata-rata nasional. Bukan mitos, tapi fakta.
Safety: Risiko yang Bukan Hanya di Slide Presentasi
Setiap pagi sebelum shift, ada safety briefing. Tapi angka kecelakaan masih ada. Kecelakaan fatal di tambang batubara Indonesia rata-rata 30-50 kasus per tahun menurut data Kementerian ESDM. Bukan angka kecil.
Bukan cuma runtuhan atau ledakan. Masalah kesehatan kronis seperti pneumoconiosis (penyakit paru-paru dari debu batubara) muncul setelah 5-10 tahun bekerja. Infeksi malaria dan demam berdarah di site Papua atau Sulawesi juga risiko nyata.
Perusahaan besar memang punya standar safety ketat. Tapi human error selalu ada. Satu kali lengah, satu kali skip prosedur karena terburu-buru, konsekuensinya bisa fatal.
Karier Jangka Panjang: Jalan Bercabang
Beberapa orang sukses: 5 tahun di site, pindah ke kantor pusat di Jakarta, naik jadi manager. Tapi itu hanya 10-15% dari total tenaga kerja. Mayoritas? Tetap di site sampai pensiun, atau keluar setelah 3-5 tahun karena tidak tahan.
Skill yang dikembangkan sangat spesifik: pengoperasian alat berat, mine planning, blasting. Kalau ingin pindah industri lain, transfer skill-nya terbatas. Bukan mustahil, tapi butuh effort ekstra.
Yang paling realistis: tabung uang 5-7 tahun, lalu ciptakan passive income atau bisnis sampingan. Banyak pekerja tambang yang akhirnya buka usaha kontraktor kecil, laundry, atau rental mobil. Mereka yang tidak punya rencana exit strategy? Bisa-bisa terjebak dalam siklus “gaji tinggi-utang tinggi” tanpa keluar.

Self-Assessment: Jujur pada Diri Sendiri
Kamu cocok jika:
- Status single atau baru menikah tanpa anak (beban psikologis paling ringan)
- Tipe pekerja teknikal yang enjoy praktik lapangan, bukan teori di meja
- Memiliki support system kuat (pasangan yang benar-benar mengerti, bukan hanya iklas)
- Tujuan finansial jelas dan spesifik (misal: tabungan 500 juta dalam 3 tahun untuk modal usaha)
- Tidak punya masalah kesehatan kronis atau trauma klaustrofobia
Kamu perlu pikir ulang jika:
- Punya anak balita atau orang tua sakit yang butuh perhatian intensif
- Pasangan Anda tipe butuh validasi fisik dan komunikasi harian (video call 10 menit sehari tidak cukup)
- Mudah stres dan butuh hiburan instan (mall, kafe, konser) untuk me-reset
- Tidak punya rencana finansial jelas (uang habis untuk gaya hidup, bukan investasi)
- Mimpi karir di corporate dengan suit dan meeting di skyscraper (karir tambang berbeda jalur)
Strategi Bertahan Hidup (Kalau Sudah Memutuskan)
Jika setelah baca ini kamu masih nekat, ini tips realistis dari veteran:
- Buat “ritual pulang”: Tiap 10 hari di rumah, alokasikan minimal 3 hari full tanpa HP untuk keluarga. Bukan liburan mewah, tapi quality time sungguhan.
- Financial lockdown: Setengah gaji langsung auto-debit ke tabungan/investasi yang tidak bisa di-touch. Sisanya untuk hidup. Jangan sebaliknya.
- Build tribe di site: Carilah 2-3 rekan yang sefrekuensi. Jadikan mereka support system. Malam minggu di site, main kartu atau nonton film bersama bisa jadi obat sepi.
- Komunikasi scheduled: Jangan hanya telepon kalau ada waktu. Buat jadwal: Senin dan Kamis jam 8 malam adalah waktu video call keluarga. Jadwalkan seperti meeting penting.
- Health is non-negotiable: Gym di site? Pakai. Makan di mess? Pilih sayur dan protein, hindari gorengan berulang. Cek kesehatan rutin setiap 6 bulan.
- Exit date: Tetapkan target konkret. “Saya akan keluar setelah tabungan 1 miliar atau setelah anak masuk SD.” Jangan “nanti kalau sudah cukup” karena “cukup” itu tidak pernah datang.
Alternatif yang Lebih “Manusiawi”
Tidak ingin jauh-jauh dari keluarga tapi tetap ingin gaji tinggi? Pertimbangkan:
- Pertambangan dekat kota: Ada tambang nikel di Sulawesi yang rotasinya 14/7 dan site-nya hanya 2 jam dari kota. Gaji sedikit lebih rendah, tapi akses lebih baik.
- Kontraktor jasa pertambangan: Bekerja untuk perusahaan jasa (bukan owner), seringkali ada project-based di site yang lebih dekat atau durasi lebih pendek.
- Posisi kantor pusat: Mine planner, geologist, atau HSE officer yang base di Jakarta tapi occasional site visit. Gaji tetap tinggi tapi tidak terjebak rotasi.
- Industri terkait: Oil & gas, geothermal, atau konstruksi infrastruktur besar. Culture-nya mirip, tapi lokasi biasanya lebih terjangkau.
Pilihan karir bukan soal benar atau salah. Soal harga yang kamu mau bayar, dan harga yang keluargamu sanggup tanggung.
Kesimpulan: Jangan Dikelabui Angka
Gaji dua digit di tambang itu nyata. Tapi yang juga nyata adalah kehilangan momen-momen tidak bisa diuangkan, seperti melihat anak belajar jalan, menenangkan istri yang sakit tengah malam, atau sekadar makan malam bersama orang tua setiap Minggu.
Jika kamu single, punya tujuan finansial jelas, dan bisa mengelola isolasi, pertambangan bisa jadi mesin uang cepat yang valid. Tapi jika kamu punya tanggungan keluarga yang butuh kehadiran fisik, jangan remehkan cost emosionalnya.
Bicarakan dengan pasangan dan keluarga. Bukan sekadar “aku ikhlas” tapi “apa rencana konkret kita menghadapi 20 hari tanpa tatap muka?” Kalau jawabannya solid, maju. Kalau jawabannya ragu-ragu, percayalah, uang tidak akan membeli rasa damai yang hilang.
Karir yang baik bukan yang paling menggiurkan gajinya, tapi yang membuatmu bisa tidur nyenyak—baik di mess maupun di kasur rumahmu.