Kamu lihat job desk cybersecurity, gaji yang menggiurkan, lalu cek requirementnya—dan langsung pusing melihat list sertifikat: CISSP, CEH, OSCP, harganya puluhan juta. Rasa-rasanya pintu masuknya cuma buat yang punya dompet tebal, bukan?
Tenang, ini bukan cerita suram. Saya bakal bantu kamu paham realita sertifikasi di Indonesia—mana yang memang worth it, mana yang bisa ditunda, dan jalur-jalur lain yang nggak kalah ampuh.
Sertifikat Mahal vs. Realitas Pasar: Mana yang Bener?
Pertama-tama, kita bedakan dua jenis perusahaan di Indonesia. Multinational corporations dan perbankan besar memang sering pakai sertifikat sebagai gatekeeper. Mereka butuh kelengkapan administratif untuk meyakinkan regulator dan klien internasional.
Tapi startup lokal, e-commerce dalam negeri, atau perusahaan manufaktur yang baru digital transformation? Mereka lebih butuh bukti nyata. Kasus di Indonesia: seorang teman saya diterima di unicorn lokal sebagai Security Engineer tanpa sertifikat apa pun—cuma modal portofolio vulnerabilitas yang dia temukan di platform mereka.

Sertifikat itu seperti SIM: berguna, tapi bukan jaminan kamu jadi sopir handal. Di lapangan, yang diuji adalah skill nyata.
Biaya Nyata Sertifikat Populer di Indonesia
Mari kita bicara angka konkret. Ini range harga all-in (training + exam) di Indonesia tahun 2024:
| Sertifikat | Biaya (IDR) | Target Level | Market Value |
|---|---|---|---|
| CompTIA Security+ | 8-12 juta | Entry | Starter pack global |
| CEH (Certified Ethical Hacker) | 25-35 juta | Mid | Populer di HRD lokal |
| OSCP (Offensive Security) | 15-18 juta | Mid-Senior | Respect di tech company |
| CISSP | 40-50 juta | Senior | Untuk manager/lead |
| BNSS (BSSN) | 3-5 juta | Entry-Mid | Untuk regulasi pemerintah |
Harga itu belum termasuk annual maintenance fee dan CPE (Continuing Professional Education) yang bisa nyedot budget tambahan 2-5 juta per tahun. CISSP misalnya, wajib bayar membership fee sekitar USD 125 per tahun.
Alternatif yang Bikin CV Kamu Tetap Menonjol
Sekarang, mari kita buka jalur-jalur lain yang sering diabaikan. Ini strategi yang sudah saya test sendiri dan lihat hasilnya di klien-klien saya:
1. Portofolio Praktikal & Bug Bounty
Platform seperti HackerOne, Bugcrowd, atau program bounty lokal (Tokopedia, Bukalapak, Gojek) jadi bukti sahih skillmu. Satu valid bug di produk mainstream? Itu lebih berharga dari sertifikat di CV. Catat: fokus ke kualitas, bukan kuantitas. Satu bug kritis > sepuluh bug low-severity.
2. Kontribusi Open Source Security
Contribute ke tools seperti OWASP ZAP, Metasploit modules, atau buat sendiri tools sederhana di GitHub. Ini menunjukkan kemampuan coding dan pemahaman security—dua hal yang dicari banget di Indonesia yang kekurangan talenta hybrid.
3. Sertifikasi Mikro & Vendor-Specific
Google Cybersecurity Certificate di Coursera (harga sekitar IDR 700 ribu/bulan, selesai 6 bulan). Atau sertifikasi vendor: AWS Security Specialty, Azure Security Engineer—lebih murah dan relevan kalau target perusahaan pakai cloud tertentu.

4. Pengalaman Magang & Proyek Internal
Mulai dari posisi IT Support, Network Admin, lalu cross-skill ke security. Banyak perusahaan di Indonesia lebih percaya internal transfer. Kamu bisa propose proyek keamanan internal: audit password, implementasi 2FA, atau security awareness training.
Kapan Sertifikat Memang Wajib?
Situasi-situasi ini memang memaksa kamu keluar uang:
- Regulasi pemerintah: Mau kerja di BUMN atau proyek kritikal nasional? Sertifikat BSSN (BNSS, BNSP) jadi syarat teknis tender.
- Client-facing role: Konsultan keamanan yang melayani perbankan atau asuransi harus punya CISSP/CEH untuk credibility.
- Career ceiling: Mau jadi CISO di perusahaan besar? CISSP jadi hampir non-negotiable.
- Fresh graduate dari jurusan non-IT: Kalau kamu lulusan ekonomi atau hukum, sertifikat jadi compensating factor untuk meyakinkan recruiter.
Tapi ingat: wajib di sini artinya trade-off. Kamu investasi sekali, return-nya terbuka pintu ke sektor-sektor yang memang lebih pelit tapi stabil.
Strategi Investasi Cerdas untuk Kamu
Jangan beli sertifikat random. Ini roadmap berdasarkan posisi kamu:
Level Pemula (0-1 tahun): Fokus skill fundamental. Linux, networking, scripting Python. Kalau mau sertifikat, ambil eJPT (elearnSecurity Junior Penetration Tester) sekitar USD 200 atau CompTIA Security+ kalau budget lebih. Portofolio > sertifikat di level ini.
Level Menengah (2-4 tahun): Ini saatnya investasi. Pilih satu spesialisasi: Offensive (OSCP), Defensive (GCIH), atau Cloud (AWS Security). Satu sertifikat kelas menengah + portofolio bug bounty cukup bikin kamu stand out.
Level Senior (5+ tahun): CISSP jadi pertimbangan kalau mau ke management. Atau fokus niche: OSCE untuk red team, atau SANS untuk forensik. Di sini, sertifikat jadi alat negosiasi gaji, bukan lagi alat buka pintu.
Rule of thumb: Jangan pernah beli sertifikat yang harganya lebih dari 30% gaji bulanan kamu saat ini. Itu tanda over-invest.
Realita Gaji: Apakah Sertifikat Balik Modal?
Data dari laporan Kaspersky dan job portal lokal menunjukkan:
- Security Analyst tanpa sertifikat: IDR 8-12 juta/bulan
- Security Analyst dengan Security+ atau CEH: IDR 12-18 juta/bulan
- Penetration Tester dengan OSCP: IDR 20-35 juta/bulan
- Security Manager dengan CISSP: IDR 40-70 juta/bulan
ROI-nya jelas: CEH bisa balik modal dalam 2-3 tahun kalau dapat kenaikan 30-50%. Tapi OSCP bisa balik modal dalam 1 tahun karena demand tinggi dan supply rendah di Indonesia.
Yang sering terlupakan: sertifikat internasional bikin kamu kompetitif untuk remote work. Banyak perusahaan Eropa dan US hire remote security talent dari Indonesia, bayar USD 3.000-8.000 per bulan. Itu yang nggak bisa diukur dengan gaji lokal.

Jadi, Apakah Wajib?
Jawaban singkat: Tidak wajib untuk semua, tapi bermanfaat untuk sebagian.
Kalau kamu mau masuk cybersecurity di Indonesia dengan budget minim, fokus ke skill portofolio. Bukti nyata > kertas. Tapi kalau kamu punya budget dan target karier jelas di korporasi besar atau sektor regulasi, sertifikat jadi accelerator yang nggak bisa dihindari.
Yang terpenting: jangan jadi kolektor sertifikat. Saya pernah temui kandidat dengan 7 sertifikat tapi nggak bisa menjelaskan OWASP Top 10 secara detail. Bandingkan dengan kandidat lain yang punya 1 OSCP + 10 CVEs yang dia temukan sendiri. Recruiter di Indonesia makin pintar: mereka test praktikal, nggak cuma lihat wall of certificates.
Terakhir, cek job description impianmu. Kalau di situ tulis “sertifikat diutamakan” tapi nggak ada “wajib”, kamu masih punya peluang. Apply sambil bangun portofolio. Kalau tulis “wajib” dan “minimum CISSP”, ya memang kamu harus investasi dulu atau cari pintu lain.
Ingat, cybersecurity di Indonesia masih jauh dari jenuh. Yang dibutuhkan bukan sekadar orang bersertifikat, tapi orang yang bisa solve real problem. Jadi pilihan ada di tangan kamu: mau jadi yang mana?